‘’Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu” (QS. An-Nisaa’: 135).

Keadilan yang seharusnya sama untuk semua manusia, seringkali bagaikan tidak sama dalam kenyataan.  Hanya orang-orang dalam kelompok tertentu yang diperlakukan dengan penuh keadilan, sementara orang-orang dalam kelompok lain tidak.  Hukum yang lurus, misalnya, bisa dibengkokkan demi kepentingan orang-orang dekat, keluarga sendiri, atau diri sendiri.  

Hukum juga bisa dibengkokkan untuk orang-orang berpangkat.  Karena alasan-alasan tertentu, banyak orang lebih menghargai orang-orang kaya dan berpangkat ketimbang orang miskin dan biasa, sehingga hukum sering dibuat memihak orang kaya.  Padahal miskin atau kaya dan biasa atau berpangkat, tidak menjadi ukuran baiknya seseorang di hadapan Allah.  Bahkan, Allah berjanji akan meninggikan derajat orang-orang yang bertaqwa, bukan karena status sosial.

Itulah sebabnya, sangat dianjurkan bagi semua manusia, termasuk penegak hukum, untuk menegakkan hokum secara adil, tanpa membeda-bedakan.  Memang amat berat, ibarat memegang bara api, menegakkan keadilan di zaman sekarang.  Namun itulah perjuangan manusia yang telah diberikan amanah.  Perjuangan untuk menuju surga atau terhempas ke neraka.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/news/view/57008/keadilan

Jarjani UsmanTafakur