“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (QS. Al-Kahfi: 28).

Hidup tak terpisahkan dari urusan memilih. Setiap hari senantiasa harus memilih antara perbuatan-perbuatan baik dan perbuatan-perbuatan jahat. Di samping itu, manusia diharuskan memilih pemimpinnya agar diorganisir.  Umat yang terorganisir merupakan kekuatan besar.  Namun perlu hati-hati, agar tak salah menjatuhkan pilihan.  Apalagi di zaman sekarang, banyak orang yang bernafsu menjadi pemimpin, sehingga sangat sulit menyeleksi yang terbaik di antaranya.  Lebih sulit lagi karena para calonnya pada awalnya menampakkan diri dengan wajah-wajah yang amat bersahabat dan menawarkan program-program yang sangat merakyat.  Atau yang menawarkan diri adalah teman atau kerabat dekat.

Menghadapi calon-calon pemimpin dituntut ketegasan.  Perlu ketegasan untuk menolak untuk calon pemimpin yang tidak layak.  Rasulullah s.a.w. juga sangat tegas menolak permintaan salah seorang sahabatnya ketika menawarkan diri menjadi pemimpin dalam suatu bidang urusan umat.  Penolakan ini tentunya erat kaitannya dengan  keinginan Rasulullah untuk menyelamatkan kepentingan umat banyak, ketimbang harus memenuhi kepentingan seorang individu, meskipun orang dekatnya.

Dengan demikian, siapapun perlu bersikap tegas dan hati-hati dalam memilih pemimpin.  Apalagi tidak tertutup kemungkinan, di antara calon itu terdapat orang-orang yang telah lalai dari mengingat Allah.  Lazimnya, orang seperti ini ingin menjadi pemimpin demi memperturutkan hawa nafsunya, mulai dari meraih ketenaran hingga merengkuh kekayaan.  Orang seperti ini juga tak segan-segan berbuat kejahatan, seperti menfitnah orang lain, demi meraih popularitas pribadinya.  Bila terlanjur memilihnya, maka bertahun-tahun akan menyesalinya.      “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (QS. Al-Kahfi: 28).

Hidup tak terpisahkan dari urusan memilih. Setiap hari senantiasa harus memilih antara perbuatan-perbuatan baik dan perbuatan-perbuatan jahat. Di samping itu, manusia diharuskan memilih pemimpinnya agar diorganisir.  Umat yang terorganisir merupakan kekuatan besar.  Namun perlu hati-hati, agar tak salah menjatuhkan pilihan.  Apalagi di zaman sekarang, banyak orang yang bernafsu menjadi pemimpin, sehingga sangat sulit menyeleksi yang terbaik di antaranya.  Lebih sulit lagi karena para calonnya pada awalnya menampakkan diri dengan wajah-wajah yang amat bersahabat dan menawarkan program-program yang sangat merakyat.  Atau yang menawarkan diri adalah teman atau kerabat dekat.

Menghadapi calon-calon pemimpin dituntut ketegasan.  Perlu ketegasan untuk menolak untuk calon pemimpin yang tidak layak.  Rasulullah s.a.w. juga sangat tegas menolak permintaan salah seorang sahabatnya ketika menawarkan diri menjadi pemimpin dalam suatu bidang urusan umat.  Penolakan ini tentunya erat kaitannya dengan  keinginan Rasulullah untuk menyelamatkan kepentingan umat banyak, ketimbang harus memenuhi kepentingan seorang individu, meskipun orang dekatnya.

Dengan demikian, siapapun perlu bersikap tegas dan hati-hati dalam memilih pemimpin.  Apalagi tidak tertutup kemungkinan, di antara calon itu terdapat orang-orang yang telah lalai dari mengingat Allah.  Lazimnya, orang seperti ini ingin menjadi pemimpin demi memperturutkan hawa nafsunya, mulai dari meraih ketenaran hingga merengkuh kekayaan.  Orang seperti ini juga tak segan-segan berbuat kejahatan, seperti menfitnah orang lain, demi meraih popularitas pribadinya.  Bila terlanjur memilihnya, maka bertahun-tahun akan menyesalinya.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/news/view/56522/memilih