Ini pelajaran berharga bagi para pemimpin. Bahwa, sikap tegas dan berani bertindak harus dilakukan apa pun kondisinya. Kalau lantaran Ammar tak menguasai wilayah kepemimpinannya, Umar berani memberhentikannya, apalagi kalau mereka yang cacat moral, tidak profesional dan abai terhadap aturan yang telah ditetapkan. Merupakan hak seorang pemimpin untuk menindak anak buahnya yang tak layak memegang jabatan.

Laporan itu sudah sering didengar Umar. Laporan tentang kinerja gubernur Kufah, Ammar bin Yasir. Tak mau berlama-lama karena khawatir muncul fitnah, Umar bin Khaththab segera memanggil sang gubernur.

Dari laporan yang ia terima, Umar mendapat kabar bahwa sang gubernur tidak mengerti tugasnya sebagai kepala pemerintahan daerah. Ammar dianggap warganya tidak memahami seluk beluk wilayah Kufah dan sekitarnya.

Ketika Ammar datang menghadap, Umar segera mengklarifikasi keluhan masyarakat tersebut. Kepada Ammar, sang Khalifah menanyakan letak beberapa kota yang berdekatan dengan Kufah. Lantaran jawabannya tidak memuaskan, Ammar pun terpaksa meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Kufah. Bagi Umar, pengetahuan tentang suatu daerah bagi seorang pemimpin amatlah penting. Bagaimana ia bisa menentukan kebijakan kalau kondisi dan letak wilayah kepemimpinannya tak ia pahami.

Pada kisah yang dipaparkan oleh Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Abqariyatu Umar (Kejeniusan Umar) ini, terdapat pelajaran menarik. Umar juga telah memberikan pelajaran bagaimana mengambil keputusan. Ia tahu persis tingkat keshalihan dan posisi Ammar bin Yasir di kalangan para sahabat Nabi saw. Ammar bin Yasir merupakan sahabat Rasulullah saw yang begitu dekat dengan beliau. Ammarlah yang pertama kali “menyumbangkan” kedua orang tuanya Sumayyah dan Yasir untuk Islam. Kedua orang tuanya gugur menjemput syahid di tangan kafir Quraisy dalam rangka mempertahankan keimanannya.

Rasulullah pun telah menjanjikan surga kepada Yasir dan keluarganya termasuk Ammar. Kemuliaan sahabat Nabi saw yang “menyumbangkan” telinganya pada Perang Yamamah ini sehingga ketika terjadi perselisihan antara Khalid bin Walid dan dirinya, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah. Siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”

Maka, tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid selain segera mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf.

Selain itu, sahabat Nabi yang bertubuh tinggi dengan bahu yang bidang dan bermatanya biru ini adalah sosok yang zuhud dan amat pendiam. Ia tak suka bicara kecuali hal yang penting.

Ibnu Abi Hudzail pernah mengatakan, “Saya melihat Ammar bin Yasir sewaktu menjadi Gubernur Kufah, membeli sayuran di pasar. Ia mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung, lalu membawanya pulang.”

Namun demikian, dengan segala kelebihannya itu, Umar tidak segan-segan memberhentikannya dari jabatan gubernur. Bagi Umar, jabatan bukanlah anugerah, tapi amanah. Umarlah yang menunjuk Ammar untuk menjabat Gubernur Kufah. Maka, kalau terjadi apa-apa, dia juga bertanggung jawab.

Ini pelajaran berharga bagi para pemimpin. Bahwa, sikap tegas dan berani bertindak harus dilakukan apa pun kondisinya. Kalau lantaran Ammar tak menguasai wilayah kepemimpinannya, Umar berani memberhentikannya, apalagi kalau mereka yang cacat moral, tidak profesional dan abai terhadap aturan yang telah ditetapkan. Merupakan hak seorang pemimpin untuk menindak anak buahnya yang tak layak memegang jabatan.

Di sisi lain, keberanian Umar menindak Gubernur Ammar dilandasi oleh kinerjanya dan kemampuannya sendiri. Ia berani memberhentikan Ammar karena Umar sendiri punya kemampuan luar biasa. Karenanya, tidak benar jika ada yang mengatakan, Umar tak menguasai pengetahuan yang dapat menunjang kepemimpinannya menangani wilayah kedaulatan Islam.

Sebagaimana juga tidak benar kalau ada yang mengatakan Umar tak memahami perhitungan matematis. Di masa Jahiliyah, Umar adalah seorang pedagang. Ia pun sudah terbiasa mengutus pasukan perang dengan perhitungan secara matematika dengan baik. Salah satu buktinya, dipaparkan oleh Abbas Mahmud al-Aqqad ini terjadi saat Abu Hurairah membawa harta rampasan perang dari Hajar dan Bahrain.

“Berapa harta yang kau bawa?” tanya Umar.

“Lima ratus ribu dirham,” jawab Abu Hurairah.

“Apakah engkau tahu jumlah sebesar itu?” tanya Umar.

“Seratus ribu ditambah seratus ribu sampai lima kali,” jawab Abu Hurairah mantap.

“Kau mengantuk. Sebaiknya engkau pulang dulu, besok kembali lagi ke sini,” tandas Umar.

Kisah tersebut oleh sebagian kalangan yang ingin membuat citra buruk Umar digunakan sebagai legimitasi bahwa sang Khalifah tak mengerti hitungan-hitungan. Padahal, sejak diangkat menjadi khalifah, Umar senantiasa melakukan perhitungan cermat mengenai jumlah tentara dan harta kaum Muslimin. Ungkapannya kepada Abu Hurairah dalam dialog di atas adalah ucapan syukur betapa besarnya harta rampasan perang yang mereka peroleh.

Pada diri Umar benar-benar terangkum dua pribadi yang berlawanan. Di satu sisi Umar dikenal dengan ketegasannya dan keberaniannya, yang juga ditunjang oleh kekuatan fisiknya. Hal ini tak mengherankan karena sejak kecil ia senang dengan beragam olahraga. Ia gemar melakukan gulat dan pacuan kuda.

Dalam suratnya kepada para gubernur, Umar pernah menyarankan mereka agar memasyarakatkan olahraga. “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian berenang dan menunjukkan sikap jantan. Tunjukkan pula teladan yang baik melalui kata-kata indah. Kekuatan tidak akan melemah selama kita masih menempa diri dengan berolahraga, baik memanah, pacuan kuda tanpa pelana, maupun olahraga lain,” ujar Umar dalam suratnya.

Di satu sisi, dalam diri Umar tumbuh cinta kasih dan sayang. Hal ini disebabkan lantaran Umar dikenal sebagai sosok yang mengagumi keindahan dan seni. Ketika berpidato, pengucapan kata-katanya sangat jelas, jernih dan mudah dipahami. Pilihan kalimatnya penuh dengan kata-kata indah. Suaranya yang tenor mampu mengeluarkan vokal yang jernih dan indah.

Kepiawaian Umar bin Khaththab merangkai kata-kata indah, diakui banyak orang. Namun untuk menyebut Umar sebagai penyair, mereka berbeda pendapat. Asy-Sya’bi pernah berkomentar, “Umar adalah seorang penyair.”

Namun dengan segenap tawadhu, Umar menyangkal kalau dirinya penyair. “Seandainya aku seorang penyair, akan kurangkai kata-kata puitis tentang kematian saudaraku, Zaid bin Khaththab,” ujar Umar.

Tapi di sisi lain, Umar menyadari kepandaiannya berorasi. “Andai aku bukan khalifah, mungkin aku menjadi ahli pidato,” ungkap Umar.

Dua sisi berlawanan inilah yang melekat pada diri Umar dan menjadi modalnya menjalankan amanah.

Hepi Andi Bastoni

Sumber : http://sabili.co.id/ibroh/dua-sisi-umar