Khalifah Umar ra adalah sosok pemimpin yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Di antara ungkapan beliau yang terkenal adalah sayyidul qaumi khadimuhum (pemimpin kaum di antaranya diukur dari mutu pelayanannya). Bukan khadi’uhum (pandai menipu mereka). Bahkan, apabila ada salah seorang warganya yang mengeluhkan pola kepemimpinannya, beliau selalu bermuhasabah diri, hingga tidak bisa memejamkan mata semalam suntuk.

Konon, ada sebuah riwayat salafus shalih (pendahulu kita yang shalih), di dalamnya mengandung pelajaran moral yang masih tetap relevan untuk diangkat pada realitas sosial kehidupan kontemporer, sebagai upaya untuk memberikan pembelajaran bagi ummat Islam khususnya dan ummat manusia umumnya. Ini berkaitan dengan spirit service oriented (etos pelayanan) dari kisah Umar bin Khathab yang sangat dikenal di kalangan kaum muslim.

Suatu malam, sebagaimana agenda rutinnya untuk turba –turun kebawah– khalifah Islam kedua itu berjalan menyusuri setiap lorong-lorong kota Madinah. Beliau mendengar tangis seorang anak yang kelaparan, tapi ibunya tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Dia terpaksa memasak batu untuk menghibur anak-anaknya sekadar menghentikan tangisannya. Sebagai pemimpin kaum Muslim, hati Umar bin Khathab merasa amat terpukul karena ada warganya yang tidak memiliki persediaan makanan sehingga anaknya menangis karena kelaparan. Maka, khalifah bergegas pergi mengambil bahan makanan dan mengantarkannya sendiri kepada keluarga janda yang sedang menderita. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, khalifah dengan senang hati bertindak menjadi pelayan ummat (khadimul ummah) dalam arti sebenar-benarnya.

Pebisnis yang sukses adalah yang berhasil menomorsatukan konsumen. “Konsumen adalah raja,” demikian istilah para pedagang dan prinsip pemasaran. Pemimpin sejati, adalah yang memiliki keterampilan melayani rakyatnya. Guru yang baik adalah guru yang selalu ngopeni (merawat, red) dan memudahkan murid menemukan kebenaran (ba’atsani mu’alliman muyassaran). Orangtua yang baik adalah yang siap berkorban untuk anaknya. Bukan mengorbankan anaknya untuk kepentingan dirinya. Yang jelas, profesi apapun disyaratkan adanya kualitas pengabdian dan pelayanan.

Ada ungkapan ahli pendidikan yang terkenal, qaddimil khidmah qablal ‘ilmi (dahulukan pengabdian (komitmen) sebelum ilmu (kompetensi). Komitmen memerlukan pelatihan secara berkesinambungan (riyadhah), sampai menjadi kebiasaan yang mendarah daging, sedangkan kompetensi semua orang bisa mempelajarinya secara formal.

Khalifah Umar ra adalah sosok pemimpin yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Di antara ungkapan beliau yang terkenal adalah sayyidul qaumi khadimuhum (pemimpin kaum di antaranya diukur dari mutu pelayanannya). Bukan khadi’uhum (pandai menipu mereka). Bahkan, apabila ada salah seorang warganya yang mengeluhkan pola kepemimpinannya, beliau selalu bermuhasabah diri, hingga tidak bisa memejamkan mata semalam suntuk.

Selain itu, ada pula ungkapan beliau yang terkenal. Ketika memandang keluhan rakyat, kesalahan itu selalu dialamatkan dirinya sendiri rahimallahu abdan ‘arafa haddahu fawaqafa indahu (semoga Allah merahmati hamba-Nya yang menyadari keterbatasan dirinya dan ia berhenti sejenak di situ). Bahkan kritikan yang paling tajam pun dipuji dengan baik, ketika ia ditanya oleh rakyatnya tentang dua jubah yang dipakainya, sementara yang lain hanya menggunakan satu jubah. Ia justru berdoa, “Segala puji bagi Allah yang memberikan hadiah kepadaku dengan menunjukkan cacatku.” . Anaknya Abdullah bin Umar, kemudian memberikan kesaksiaannya di hadapan publik bahwa baju yang dipakainya merupakan bagiannya yang sah diberikan kepada ayahnya karena kebesaran badan. Karena, satu jubah hanya cukup menutup sebagian tubuh Umar ra.

Beberapa Ibrah

Pada umumnya ketika kita membaca kisah Umar ra, apresiasi kita berhenti sampai di sini. Cerita sebagai pengantar tidur. Kita hanya kagum terhadap keshalihan khalifah karena perhatiannya yang besar terhadap orang kecil serta kerelaannya meninggalkan baju dan gengsi kekhalifahan, sehingga bersedia mengantarkan sendiri bantuan kepada rakyat yang sedang lapar.

Kita jarang bertanya mengapa khalifah yang dijuluki Al-Faruq (pembeda antara haq dan batil) ini memiliki etos pelayanan yang demikian tinggi?

Secara spekulatif, setidaknya ada beberapa alasan yang bisa dijadikan ibrah (pelajaran) dan ‘ubur (jembatan menuju puncak sukses) dari pertanyaan di atas.

Pertama, Umar ra selalu menghayati dan mengamalkan ayat kelima dari Surat Al-Fatihah. Firman Allah Swt yang menjadi ummul kitab (induk Al-Quran) ini yang mengajarkan prinsip penting dalam kehidupan masyarakat Al-Fatihah, yakni mendahulukan kewajiban sebelum menuntut hak. Menduduki posisi apapun berorientasi amal shalih, bukan semata-mata untuk meraih jabatan itu (sepi ing pamrih rame ing gawe, Jawa). Jabatan hanya sebagai lahan aktualisasi pengabdian, bukan tujuan akhir. “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah : 5).

Kedua, Umar ra menyadari betul bahwa kekuasaan yang ada di tangannya adalah amanat vertikal sekaligus horizontal, kata politikus Islam Imam Mawardi. Di samping bertanggungjawab kepada Allah Swt, juga untuk membangun kesejahteraan seluruh umat manusia dan harus ditunaikan secara penuh (full time). Tidak setengah-setengah. Ketika diangkat menjadi khalifah, ia memahami bahwa mengurusi manusia (ra’in) akan dihadapkan masalah yang tidak akan pernah selesai. Sampai manusia kembali kepada-Nya. Ketika manusia lahir dalam keadaan menangis, mengisyaratkan bahwa menjalani kehidupan yang lurus itu tidak mudah dan tidak sederhana.

Kualitas kepemimpinan/ketokohan seseorang tidak ditentukan oleh katsratur riwayah (banyaknya meriwayatkan, berpidato), tetapi katsratur ri’ayah wal istima’ (banyak melayani dan banyak mendengar).


“Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya [Al-Quran]. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar (39) : 17-18)

Ungkapan ahli sastra Arab yang cukup akrab di kalangan komunitas santri:

“Apabila engkau membawa keranda ke kuburan, ketahuilah bahwa engkau akan digotong. Dan apabila engkau diserahi (dititipi) urusan oleh kaum, sadarilah suatu saat engkau akan dimakzulkan (dilengserkan), jika kurang amanah.”

Ketiga, kualitas keimanan Umar ra yang sangat tinggi tidak pernah melupakan isi surat Al-Maun yang memberi ukuran/standar bahwa siapapun muslim, dalam standar sosial apapun, yang mengabaikan terhadap anak yatim dan fakir miskin adalah pendusta agama.

Islam tidak sekedar kaya seremonial, tetapi miskin aplikasi. Islam menghendaki pemeluknya agar shalih secara ritual, berefek pada shalih sosial. Iman tidak sebatas kepercayaan yang abstrak, tetapi sekaligus membumi. Iman yang tidak melahirkan amal, sama jeleknya dengan amal yang tidak didorong oleh iman. Tidak masuk surga orang yang kenyang, tetapi tetangganya dalam kondisi kelaparan (Al-Hadits). Bukti kedekatan seseorang kepada Allah Swt, salah satu indikatornya adalah dicintai orang lemah. Itulah pribadi Umar ra.

Keempat, Umar ra tidak pernah melupakan hadits qudsi yang menjelaskan bahwa seseorang sudah layak masuk neraka karena dia tidak menjenguk tetangganya yang sakit. Dengan penafsiran yang luas, sakit bisa juga bermakna lapar, teraniaya, menganggur, teralienasi, termarginalkan secara kekuasaan dan ekonomi, dan lain-lain. Ketika Nabi Musa as pergi untuk miqat (bertemu Allah Swt untuk menerima wahyu), dia bertanya kepada-Nya, “Ya Allah, di manakah aku mencari-MU? Allah Swt menjawab, “Carilah Aku di tengah-tengah orang yang hatinya terluka.”

Kelima, ini yang terpenting dan jarang menjadi bahan renungan kita. Meski dalam posisi sebagai khalifah, Umar ra tetap berwatak tawadhu’ (rendah hati). Tidak merasa lebih terhormat dan lebih penting dari siapapun atau orang lain semiskin apa pun. Betapapun melimpah kekayaan, tinggi kedudukan dan jabatan, serta luasnya ilmu seseorang, sesungguhnya dia secara permanen adalah hamba Allah Swt (‘abdullah). Logika dan rasanya memang demikianlah sosok pemimpin sejati, negarawan. Bukan pejabat dan penguasa.

Keenam, beliaulah yang mengajarkan kepada kita sikap mental mawas diri. Memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, sehingga terampil dalam mencermati kelemahan dirinya sebelum meneliti sisi gelap orang lain. Salah satu statemennya yang terkenal adalah berikut.

“Introspeksilah diri kalian sebelum segala perbuatan kalian diperhitungkan. Timbanglah amal kalian (di dunia ini) sebelum amal kalian ditimbang (di akhirat). Persiapkanlah diri kalian untuk menghadapi pembeberan amal kalian. Pada hari itu, amal kalian akan dibeberkan (semua), tidak ada yang ketinggalan walau sesamar apa pun.” (HR. Imam Ahmad).

Ketujuh, meneledani pola pelayananan yang dilakukan seniornya, Abu Bakar ra. Suatu ketika setelah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. diangkat menjadi amirul mukminin, dia berpapasan dengan seorang wanita tua yang menyindirnya, “Oh mana mungkin Abu Bakar mau menolongku memerah susu kambing. Kini dia telah menjadi pemimpin umat.”

Abu Bakar menjawab, “Tidak, aku tetaplah Abu Bakar yang selalu ingin melayani.” Kemudian khalifah Islam I ini memerah susu kambing dan diserahkannya kepada wanita tua tersebut.

Efek dari Kesadaran Tauhid

Bagaimanakah bisa terjadi Umar ra yang kelak akan dibangkitkan bersama Abubakar dan Rasulullah Saw di akhirat kelak, bisa demikian rendah hati (tawadhu’), sehingga rela menjadi pelayan orang miskin, Apakah landasan hukumnya?

Menurut pendapat penulis, kerendahan hati Umar ra terutama efek (atsar) dari kesadaran syahadat tauhid yang kokoh dan fungsional. Syahadat adalah kesaksian yang diberikan seseorang atas kebenaran keesaan Allah Swt. Bahwa tiada ilah yang eksis secara hakiki (wajibul wujud) selain Allah Swt. Ketika bersyahadat, dia hanya mengakui Penguasa Tunggal dalam kehidupannya, yaitu Allah Swt. Penguasa yang lain hanya sebagai bayangan wujud-Nya. Apa yang bisa kita dengar, kita lihat, kita cicipi, kita cium dan kita raba, wujudnya adalah nisbi (mumkinul wujud). Kita mentaati seseorang jika ia tunduk kepada Allah Swt dan mencintai-Nya

Kita berulang kali membaca kalimat thayyibah tersebut. Dan kita meyakininya dalam taraf tertentu, kita bahkan bisa membenarkannya secara kognitif dan nalar. Tetapi, berhenti di sini, titik. Jarang di antara kita mencapai pada level yang lebih jauh. Umar ra agaknya berbeda dengan kita. Beliau tidak berhenti pada pemahaman syahadat secara logika saja. Beliau pada haqqul yaqin atas keesaan-Nya serta kemutlakan-Nya dengan hati, membenarkan-Nya dengan nalar, dan menghayati serta mengaktualisasikannya menjadi akhlaq dan perilaku. Iman sama pentingnya dengan akhlaq. Iman sebagai sumbernya, akhlaq sebagai buahnya.

Bagaimana mungkin orang yang telah bersyahadat dengan benar, namun merasa dirinya lebih penting, lebih mulia, lebih terhormat di hadapan orang lain? Bukankah perasaan tagha (lebih) menjadi indikator kesombongan alias penuhanan diri dalam hati orang tersebut?

Dengan kesadaran tauhid yang utuh, Umar ra memanggul sendiri dan mengantarkannya bantuan makanan kepada seorang janda miskin. Ini etos pelayanan (khidmah) dari seorang yang menghayati makna syahadat secara konsisten. Pelayanan seperti ini berasal dari iman yang sangat mendalam, dan tidak bernuansa politis dan komersial seperti yang banyak terjadi pada akhir-akhir ini.

Dalam pandangan Umar ra, si janda miskin itu adalah salah satu chek point bagi siapa saja yang mau berjalan menuju surga. Atau dia mempersepsikan bahwa mereka yang fakir karena miskin struktural dan fakir karena kultural adalah komunitas yang dikirim oleh Allah Swt kepada kita sebagai alamat-Nya.

Maka, melayani kaum dhu’afa dan mustadh’afin adalah ibadah kongkrit yang paling berharga, dan sayangnya hanya bisa dilakukan dengan kemurnian niat oleh mereka yang menghayati makna syahadat secara benar dan diamalkan secara istiqamah. Hanya dengan syahadat yang penuh dengan pengorbanan jihad (fisik), ijtihad (akal), dan mujahadah (hati) yang sukses membangun etos pelayanan Islami.

Kita berdoa di bumi pertiwi ini lahir pemimpin yang amanah, jika tidak semoga Allah Swt memberikan pelajaran kepadanya, atau memperpendek umurnya. Mudah-mudahan ada yang bisa kita maknai dan kita nikmati dari kisah Umar bin Khathab ra. di atas.

Oleh: Shalih Hasyim

sumber : http://hidayatullah.com/read/10386/14/01/2010/-merindukan-pemimpin-