Fatimah binti Walid mengarahkan pandagannya keluar tenda menyaksikan keindahan pemandangan di sekitarnya, keelokan alam negeri syam yang sangat memikat. Sambil memasak ia bersenandung tentang kisah peperangan terbesar kaum muslimin dan kemenangan mereka atas pasukan Romawi dibawah pimpinan Khalid bin Walid saudaranya.

Kemudian ia mendengar suara salah seorang sahabatnya berkata “Bergembiralah putri Al Walid hari ini hariyang sangat agung bagi kita”. “Apa maksudmu wahai saudaraku?” Fatimah bertanya penuh rasa ingin tahu. “ Ketahuilah wahai Fatimah! Pasukan kita berhasil meruntuhkan benteng pertahanan Damaskus  dan telah memasuki kota untuk menebar kemerdekaan, cahaya dan iman bagi penduduknya

Fatimah memeluk sahabatnya dan beterima kasih atas berita gembira itu yang telah lama ia nantikan. Bangsa Romawi yang menguasai Damaskus yang memiliki benteng yang sangat kokoh tidak akan menyerah begitu saja pada kaum muslimin. Namun bangsa Romawi adalah bangsa yang Zhalim dan penduduk setempat tidak akan membela bangsa yang menganiaya, menyakiti dan menzhalimi mereka.

“Wahai Fatimah andai saja engkau mendengar pujian oang orang terhadap saudaramu, Khalid, bahwa dia adalah pedang Allah yang terhunus tanpa tanding, penakluk bangsa Irak dan Romawi di negeri Damaskus yang memberikan kemerdekaan kepada penduduknya, layaklah engkau menyandang segala kebanggaan itu wahai keluarga Al Walid! Sesungguhnya Khalid telah membangun bagi kalian kemuliaan diatas bumi ini, tak akan lenyap perjuangannya dan tak akan sirna hasil yang telah ia raih.”

Dengan penuh kerendahan hati, fatimah berkata, “ Wahai kawanku sesungguhnya kita berperang dengan ruh Allah menemani kita.Sebagai pribadi kita tidak berhak menyandang kemuliaan itu, karena kemuliaan dan keagungan semua milik Allah, dan dengan agama NYA semata dengannya kita keluar dari kegelapan kepada cahaya. Allah

Terdengar suara rebana di tabuh dan teriakan kemenangan dari kejauhan. Kedua sahabat ini menyambut gembira suara takbir dan tahlil yang memenuhi perkemahan kaum muslimin. Semua bergembira atas kemenangan itu, bersujud syukur, semoga kemenangan demi kemenangan dapat diraih. Fatimah pun berkata ” Jika saja saya memiliki dua sayap, saya akan terbang menemui Khalifah Abu Bakar untuk menyampaikan padanya berita kemenangan yang Allah berikan ini”. Hal itu menjadikan Fatimah rindu Madinah nun jauh disana. Namun ia menyadari bahwa keberadaan mereka jauh dari rumah karena memperjuangkan agama Allah, itulah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya baginya.

Tidak lama berselang, berita kemenangan kaum muslimin atas pasukan Romawi benar benar menciutkan musuh2 Islam. Setiap kemenangan pasukan Islam maka pasti disebut pula satu nama : KHALID bin WALID. Pasukan Muslim pun tahu bahwa keberadaan Khalid di tengah mereka sebagai panglima perang adalah berita gembira yang menjanjikan kemenangan. Orang menganggapna sebagai lelaki tanpa tanding, lebih dari sekedar orang yang membawa panji panji islam dalam peperangan.

Namun bagi Khalid sendiri ia tidak henti hentinya menengadahkan hatinya dan berdoa kepada Allah, mensyukuri segala nikmat, petunjuk dan kemenangan yang Allah telah berikan kepadanya.

Namun, kemeriahan dan hingar bingar perayaan kemenangan itu tiba tiba terhenti berganti menjadi kesedihan. Khalid masuk ke dalam kemahnya terlihat sedih dan bimbang. Fatimah bertanya, ” adakah sesuatu yang terjadi di luar sana?”. Khalid meminta segelas air kepada Fatimah, dan sambil menggenggam air minum itu ia berakata dengan suara pelan sementara air mata menggenang pada kelopak matanya ” Ada berita sedih tentang wafatnya Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq.” Fatimah berkata ” Semoga Allah merahmatinya, ”. Khalid berkata kembai ” Abu Bakar telah berwasiat menjelang kematiannya agar ia digantikan oleh Umar bin Khattab.”

Fatimah berkata ” Tetapi Khalid, Umar menyimpan dalam hatinya masalah pribadi denganmu sejak lama”. Mendengar ucapan adiknya Khalid berkata dengan suara lantang dan agak marah, ” Jangan lupa wahai Fatimah! Sesungguhnya Rasulullah bersabda bahwa ALLAH SWT meletakkan kebenaran pada lisan Umar. Dan engkau harus tahu bahwa mengangkat seorang pemimpin tidak boleh bersandar pada perasaan dan keinginan semata.”

Khalid adalah seorang pemimpin dan pada saat yang sama ia juga seorang prajurit yang memahami dnegan baik kewajiban-kewajibannya. Ia tidak menyimpan sesuatu kepada Khalifah kecuali kepercayaan, rasa cinta dan penghormatan. Sesungguhnya misi bersama yang mereka perjuangkan tak memberi peluang kepada mereka untuk mengutamakan kepentingan pribadi. Khalid tidak memikirkan hal lain kecuali tugas2 nya di Damaskus.
Sementara itu Khalifah Umar bin Khatab, mengirim seoarang utusan  Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan  melayangka sepucuk suratnya kepada Khalid yang saat itu masih memegang kendali pasukan Muslimin. Namun Abu Ubaidah merahasiakan surat tersebut dari Khalid karena kecintaannya dan penghormatannya yang tinggi kepada nya. Surat tersebut berisikan bahwa Khalifah menurunkan jabatannya pada saat ia berada di puncak ketenarannya dan Abu Ubaidah lah akan menggantikan Khalid memimpin pasukan muslimin.

Namun setelah sekian lama berdiam diri, Abu Ubaidah tidak lagi dapat menghindar. Dengan segala kerendahan hatinya ia sampaikan surat Khalifah kepada Khalid. Khalid menerimanya dengan hati yang lapang dan tenang karena sesungguhnya ia berjihad di jalan Allah. Keberadaannya sebagai prajurit biasa tidak akan menghalanginya untuk tetap berjuang di jalan NYA, kebenaran dan cita ita untuk menegakkannya lah yang menjadi pegangan Khalid. Setelah keduanya lama terdiam, Khalid berkata ” semoga Allah senantiasa mengasihimu wahai Abu Ubaidah, tetapi mengapa kau merahasiakan surat ini sejak lama?”

Abu Ubaidah berkata ” sesungguhnya aku tidak ingin melemahkan kekuatan semangatmu karena bukan kekuasaan yang aku kehendaki dan bukan pula kenikmatan dunia yang aku inginkan. Segala apa yang engkau saksikan akan lenyap dan punah, sedangkan kita adalah dua orang bersaudara, yang akan selalu bersama di dunia dan akhirat. Dan tidaklah patut bagi seseorang melihat saudaranya tertimpa petaka dunia dan akhirat”.

Hilanglah segala keraguan, godaan dan ujian dar diri Khalid bin Walid, sang lelaki sejarah yang tak pernah mendengarkan kalimat2 yang mencoba mengadu dirinya dengan Khalifah, tidak menghiraukan orang orang yang menebar fitnah dengan menggembar gemborkan keagungan dan kepahlawanannya agar ia membangkang.

Keesokan harinya, Khalid mempersilakan Abu Ubaidah menggantikan dirinya berada di depan pasukan sementara Khalid mundur dan berada di belakang sang pemimpin baru itu. Namun, tidak ada sebesar biji zarahpun dalam hatinya perasaan iri, dengki atau keinginan membangkan karena merasa dirinya besar.

Pada saat itu Fatimah menyaksikan saudaranya dengan penuh kekaguman dan penghargaan seraya melihat kepada Abu Ubaidah tanpa ada sedikitpun rasa benci dan marah dalam dadanya perlahan ia berkata ” Allahu Akbar! Kalian akan selalu meraih kemenangan dimanapun kalian berada, wahai lelaki sejarah!.

Pada hari itu, Allah maha menyaksikan dan mencatatkan kemuliaan seorang anak manusia, kemuliaan KHALID bin WALID. Allah SWT yang maha melihat hati hamba-hamba NYA yang berserah diri, berbuat segala sesuatu karena Allah semata. Allah mencatat segala pergerakan hati kita tanpa kecuali, segala kasih sayang dan kebencian akan menjadi catatan amal perbuatan hati yang diperhitungkan nantinya. Semoga Allah selalu membantu kita menjaga kebersihan hati ini.

sumber : http://nandalusi.multiply.com/journal/item/242/KHALID_BIN_WALID_-_SANG_LELAKI_DALAM_SEJARAH