“ Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang aku, maka jawablah bahwasanya aku adalah dekat . Aku mengabulkan permohonan orang – orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-ku ( Al Baqarah 2: 186 )

Zikrullah sudah dikenal oleh ummat Islam di seluruh dunia semenjak kelahiran Islam. Dzikir yang pertama kali dikumandangkan oleh Rasulullah kepada ummatnya adalah kalimat laa ilaha illallah . Banyak cara dzikir telah yang diajarkan oleh Nabi. Ada dzikir yang diulang-ulang (wirid), ada dzikir dengan mengeraskan suara (azan, takbiran,talbiyah), ada dzikir di dalam hati (sirri), ada dzikir dengan pikiran (tafakkur, memahami penciptaan alam sebagai ayat Allah), ada pula dzikir dalam segenap keadaan (berjalan, duduk, berdiri, berbaring dan bekerja).

Semua dzikir di atas diperbolehkan sebagai sarana menterapi pikiran dan mental untuk mencapai tarap kesadaran ketuhanan yang tinggi (dzikrullah) serta membersihkan jiwa. Dzikir kepada Allah sebenarnya bebas dilakukan dimana saja, baik dalam posisi berdiri, duduk, maupun sambil tidur-tiduran. Dzikir bisa dilakukan dalam halakah-halakah kecil maupun secara berjamaah.

Tidak perlu ada pembimbing seperti apa yang sudah kita lakukan selama ini, yaitu setelah selesai shalat kita bisa langsung mengucapkan subhanallah, alhamdulillah, laailaha ilallah, Allahu akbar, masing-masing sebanyak 33 kali. Sadarkan bahwa Allah sebagai pembimbing hati setiap manusia. Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati setiap mukmin.

Dan Dialah (Allah) sebagai waliyam mursyida (juru pembimbing). Tujuan berdzikir bukan sekedar membaca dan mengulang kalimat suci. Dzikir merupakan upaya untuk membangkitkan kesadaran diri menuju kesadaran yang lebih tinggi, yaitu bergeraknya ruhani seseorang menuju kepada Allah. Artinya, di saat kita menyebut nama Allah seharusnya kita sekaligus mengarahkan jiwa kita tertuju kepada Nya dan kembali kepada Nya. Kemudian, secara sadar, memberikan ruh kita untuk menerima bimbingan dan tuntunan Nya serta diterangi oleh sinar Nya.

Sering kita mengatakan dalam setiap doa: “Ya Allah kepadamu kami menyembah dan kepadamulah kami mohon tuntunan”, tetapi tanpa kita sadari kita tidak siap dan bersedia untuk menerima tuntunannya. Padahal Allah akan merespons setiap doa kita (ud’uni astajib lakum).

Kita tidak sabar atau barangkali tidak percaya diri (tidak yakin), bahwa Allah ada dekat kita dan mendengar setiap keluhan kita. Jangan terpengaruh dengan pendapat orang lain, bahwa menuju Tuhan hati harus bersih dan memiliki ilmu yang tinggi. Tidak!! Karena hati kita tidak akan pernah bersih selama-lamanya akan tetapi Allah-lah yang membersihkan hati setiap orang yang dikehendaki Nya (Annur, 24 : 21). Yang dibutuhkan adalah sikap yakin bahwa Allah dekat. Sikap sederhana ini mungkin sudah sering kita lakukan walau pun kurang disadari.Kepada-Mu Ya Allah kami mohon tuntunan

Sumber Buku Pelatihan Shalat Khusu’ oleh Abu Sangkan