Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai dengan niatnya ( HR Bukhari Muslim )

ITULAH NIAT ! Niat bukanlah sebuah bacaan atau mantra tetapi suatu perbuatan yang di dalamnya terdapat kesadaran penuh yang mengalir.

Agama mensyaratkan niat sebagai kontrol nilai, apakah ia berada dalam kesadaran ihsan atau tidak, sehingga kadang kala Allah menegur kita saat beribadah: mengapa kita melakukannya dengan pikiran terpecah (baca: hya)l. Niat kita terkadang berubah pada waktu berlangsungnya ibadah kepada Allah. Misalnya pada saat kita melakukan shalat, ditengah kita bersujud ternyata pikiraj}/ tidak turut bersujud malah melayang jauh menuju angan-angan.

Pada uraian di atas, telah dijelaskan bagaimana berniat menurut pengertian fiqh, yaitu menyengaja melakukan suatu perbuatan dengan penuh kesadaran. Maka aktivitas otak kiri (logika) dan otak kanan (holistik) berpadu menghasilkan kekuatan (daya) yang luar biasa. Logika akan turut berkembang, mengikuti terbangnya spiritual kita menuju Zat Yang Maha Tinggi. Ibarat sebuah kereta api yang memiliki jalur rel (baca: logika/ syariat) namun kereta bisa meluncur bebas dengan kecepatan tinggi (baca: spiritual/ hakikat) walaupun dibatasi ruang geraknya hanya dalam jalur yang ditetapkan.

Sama dengan seorang meditator yang menemukan rasa hening dan tentram setelah memadukan kedua kekuatan dengan sikap meditasi, seorang pengendara mobil yang memadukan logika mekanik dengan perasaan untuk bisa melaju cepat dengan halus dan seimbang, atau seorang bisnisman yang memadukan kekuatan ilmu ekonomi dengan nalurinya (corporate mystic). Semuanya terjadi karena adanya niat dengan pengertian sebenarnya, bukan hanya membaca niat.

Sumber : Pelatiha Shalat Khusyuk oleh Abu Sangkan