Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai dengan niatnya ( HR Bukhari Muslim )

Niat adalah kesadaran untuk mempersatukan kegiatan otak kiri dan otak kanan sehingga menghasilkan rasa sambung (tuning) dalam shalat maupun ibadah yang lainnya.

Dewasa ini di kalangan masyarakat awam kata “niat” berubah pengertiannya menjadi “membaca niat”, misalnya: aku berniat shalat, aku berniat wudhu’ dan Iain-Iain.

Niat dengan pengertian ini tidak akan membawa dampak apa-apa terhadap perbuatan yang dilakukan. Seperti halnya ketika seseorang mengangkat karung berisi beras 50 kg , tidak mungkin ia hanya mengatakan : “Aku berniat mengangkat sebuah karung berisi beras seberat 50 kg”, la akan mengangkat dengan serius. Bersamaan dengan itu, pikirannya berpadu dalam satu kemauan penuh.

Berbeda dengan orang mengangkat dengan sekedarnya. Sikapnya tampak tidak ada semangat sehingga kita mengatakan : “Gimana sih, ngangkat kok nggak niat.  Artinya teguran itu menunjukkan, bahwa niat merupakan pekerjaan yang penuh kesadaran antara pikiran, hati dan perbuatan. Jika ketiganya telah bekerja sama, maka terjadilah kekuatan yang menghasilkan sebuah tindakan yang baik.

Sumber Buku Pelatihan Shalat Khusu’ oleh Abu Sangkan