Barangkali ini soal cara berpikir yang efektif meskipun tidak lengkap, tetapi sudah menjadi kebiasaan kita karena pengajaran agama atau pendidikan di sekolah yang lebih memfungsikan potensi otak kiri. Cara berpikir ini, membuat pikiran kita hanya terarah pada satu tujuan tertentu yang memang sudah dipolakan. Kita tidak memiliki alternatif selain mengulang pola tersebut. Bila pola itu tidak bisa dipakai, yang terjadi adalah kita terpaksa mengulangi proses dari awal lagi, setahap demi setahap. Orang akan sangat efektif, tetapi sekaligus juga kaku dan tidak berkembang. Inilah permulaan kita memahami penyebab mengapa kekhusyu’an sulit diperoleh. Karena kita hanya mengaktifkan fungsi otak kiri sementara potensi otak kanan dibiarkan liar melayang secara tidak teratur.

Hal ini telah diperingatkan oleh Nabi kepada para peshalat yang hanya mengarah kepada aktivitas syariatyang logis. Hanya teratur dalam bacaan dan raka’attanpa memperhatikan hakikat rasa ihsan dan keyakinan yang muncul dari emosional dan bersifat relasional. Akibatnya timbul rasa jenuh dan capek.

Berapa banyak  orang yang shalat  namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah.

.

Menjadi sebuah pertanyaan, mengapa shaiat malah menjadi beban bukannya sebagai obat penenang? Ketika pola berpikir rasional menyebabkan jenuh dan stress, orang-orang di Barat menggunakan meditasi sebagai alternatif terakhir untuk mencapai pencerahan dan ketenangan. Bagi orang yang tidak memahami akan hal ini, agama akan menjadi beban hidupnya.

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu ( Al Baqarah, 2 : 185 )

Awareness adalah kata lain untuk berpikir secara seimbang dan lengkap dengan memakai otak kiri dan kanan secara sadar dan efektif. Selama ini kita gagal untuk melakukannya. Ketidakseimbangan cara berpikir ini akan berpengaruh kepada tubuh, secara fisik maupun psikis, sehingga langsung berpengaruh terhadap cara beribadah kita yang dinamakan tidak khusyu’.

Kita menjadi tidak bisa berkonsentrasi karena terasa pikiran pecah (berjalan terpisah). Akibatnya shaiat menjadi menjemukan dan capek. Sebagaimana yang sering kita rasakan, pekerjaan yang paling menjemukan adalah pekerjaan menunggu. Namun, kita akan bisa berlama-lama kalau berdua dengan seorang kekasih sehingga putaran jam terasa berjalan begitu cepat.

Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?

Pada saat shaiat, otak kiri telah bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu menghitung, mengatur raka’at, dan membaca secara verbal setiap kalimatyangtelah dipola serta mengulang-ulangnya. Di sisi lain, otak kanan telah lari kemana-mana sesuai dengan potensinya yang acak, melayang mencari inspirasi dan intuisi. Dan karena sifat holistik memiliki loncatan quantum yang lebih cepat dari pada apa yang kita pikirkan, maka ia mampu masuk ke dalam ruangan takterbatas. Apabila pikiran dan cara berpikir sudah seimbang, tubuh dan jiwa akan mengikuti kehendak pikiran. Ini adalah sinergi yang diharapkan dapat menampilkan kualitas shalat kita secara optimal. Setiap orang berhak atas pencerahan ini, walaupun barangkali ukuran dan intensitasnyatidaksama dengan parawali dan nabi. Paling tidak, untuk merasakan sentuhan llahi secara langsung bukan lagi sebuah Utopia yang sulit diraih.

Khusyu’ bukanlah sesuatu yang rumit tetapi bukan juga sesuatu yang gampang. Sering kita mendengarkan penjelasan metode yang menyatakan tentang pembelajaran kecerdasan emosional spiritual. Padahal yang dilakukan dengan metode tersebut tetap saja merupakan unsur pembelajaran kognitif yang dimodifikasi dan tetap berkonsep matematis (otak kiri). Metode yang lainnya juga sering berbicara tentang masalah shalat khusyu’ tetapi pembicaraannya hanya di sekitar masalah karakteristik. Caranya tidak pernah beranjak ke arah suatu pelatihan atau pemahaman yang mampu menggerakkan atau mengaktifkan bagian otak kanan, sehingga shalat khusyu’ hanya menjadi bagian dari impian saja.

Sumber : Buku Pelatihan Shalat Khusu’ oleh Abu Sangkan