Berapa banyak orang yang shalat, namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah ( HR Abu Daud )

Kita terbiasa menggunakan istilah konsentrasi untuk setiap melakukan pekerjaan yang serius sehingga tergambar di raut muka, wajah penuh ketegangan dan kening mengkerut menambah kesan, bahwa kita sedang berkonsentrasi.

Keluhan pertama yang kita rasakan selama shalat adalah sulit berkonsentrasi! Upaya kita untuk menempuh kekhusyu’an dengan menggunakan konsentrasi dalam shalat hampir selalu gagal. Ketika shalat, pikiran tetap melayang-layang tidak bisa dikendalikan. Padahal segala tata cara syariat telah terpenuhi, baik bacaan maupun raka’atnya.

Namun lagi-lagi pikiran pergi tanpa kompromi.

Tahu-tahu shalat sudah usai tanpa disadari.Otak seperti bekerja sendiri-sendiri. Yang satu bekerja mengeluarkan memori bacaan dan gerakan yangtelah biasa dilakukan setiap shalat secara refleks, sedangkan pikiran yang satu berjalan memikirkan pekerjaan di luar shalat yang dirasa belum selesai. Hal ini disebabkan karena otak memiliki dua belahan, otak kiri dan otak kanan, dimana masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.

Kemampuan otak kiri atau left cerebral hemisphere adalah melakukan proses berpikir yang bersifat logis, sekuensial, linear dan rasional. Sisi ini sangatteratur walaupun, berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas yang teratur seperti ekspresi verbal dalam menulis, membaca, mengartikan pendengaran/suara, nenempatkan detail dan fakta fenotik serta simbolik.

Di dalam shalat, otak kiri berkaitan dengan syariat shalat seperti hitungan raka’at, bacaan dan berurutan (tertib).

Di sisi lain, otak kanan atau right cerebral hemisphere berpikir secara acak, tidak teratur,

nturtif dan holistik (spiritual). Cara berpikirnya sesuai dengan hal-hal yang bersifat non verbal seperti mengetahui perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan, merasakan kehadiran suatu benda atau orang lain, kesadaran ruang, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.

Acuan utama otak kiri adalah memorisasi, hafalan. Para peserta pendidikan formal di seluruh tingkatan, dituntut untuk mampu dan mahir di dalam hafalan serta memiliki sistem memorisasi yang baik. Itulah parameter keberhasilan yang saat ini dipakai dalam sistem pendidikan kita.

Seseorang yang tidak memiliki kemampuan memorisasi cukup tinggi akan dinilai sebagai kurang berhasil di dalam pendidikannya. Ini suatu vonis yang akan berlangsung seumur hidup dan akan mempengaruhi seluruh kehidupannya kelak.

Memorisasi dianggap sebagai sebuah produk utama yang akan menunjang keberhasilan seseorang di masa depan. Ini sudah menjadi semacam hukum tak tertulis di masyarakat. Padahal memorisasi adalah sebuah produk mental dengan kadar yang terendah dan terhitung primitif.

Itulah yang menurut Dr Hidayat Nataatmaja sebagai penyakit c/6eryang menjadikan pikiran manusia modern berubah menjadi pikiran mekanis dan digital (syariat termasuk kategori ini). Bahkan disebut sebagai HIV dan AIDS di dunia inteligensi/ pikiran, Human Intellingence Virus yang menimbulkan Acquired Intellingence Deficiency Syndrome. Inteligensi manusia bisa lenyap karena virus itu, sehingga intelligence-nya mati dan diganti dengan artificial intelligence, rational intelligence, yang tidak lain dari pada digital intelligence. Orang seperti ini mati perasaannya, tidak memiliki kehalusan budi, rasa cintanya punah dan penampilannya kaku karena pikirannya ditimbang dengan hukum-hukum positif saja.

Barangkali ini soal cara berpikir yang efektif meskipun tidak lengkap, tetapi sudah menjadi kebiasaan kita karena pengajaran agama atau pendidikan di sekolah yang lebih memfungsikan potensi otak kiri. Cara berpikir ini, membuat pikiran kita hanya terarah pada satu tujuan tertentu yang memang sudah dipolakan. Kita tidak memiliki alternatif selain mengulang pola tersebut. Bila pola itu tidak bisa dipakai, yang terjadi adalah kita terpaksa mengulangi proses dari awal lagi, setahap demi setahap. Orang akan sangat efektif, tetapi sekaligus juga kaku dan tidak berkembang. Inilah permulaan kita memahami penyebab mengapa kekhusyu’an sulit diperoleh. Karena kita hanya mengaktifkan fungsi otak kiri sementara potensi otak kanan dibiarkan liar melayang secara tidak teratur.

Sebagai contoh, mari kita lihat dalam ilustrasi di bawah ini:

Seorang ibu memberikan arahan di saat-saat yang sangat penting, yaitu di kala anaknya akan duduk di pelaminan dalam acara resepsi pernikahannya: “Kalian hams bersikap ramah dan tampak sumringah (ceria) dihadapan para tamu”.

Undangan telah disebar untuk sekitar empat ribu orang. Acara diselenggarakan di sebuah gedung yang cukup mewah dengan sentuhan adatjawa yang menambah kesan sakral.

Acara dimulai, irama musik Kebo Giro sudah mengalun. Satu persatu tamu undangan memberikan selamat kepada kedua mempelai. Sesuai dengan pesan ibunya, keduanya harus menjaga penampilan yang lebih dari biasanya. Untuk seratus tamu undangan pertapia, wajah mempelai mampu mempertahankan keramahan dengan senyumannya yang bersih dan bersinar penuh pesona. Namun setelah lima raws undangan, otaknya mulai bekerja, memerintahkan syaraf bibirnya untuk terus tersenyum, agar sorot matanya tetap bersinar, pundaknya tetap rileks, namun si mempelai tampak kewalahan dan kecapaian.

Itulah batasan otak kiri di dalam melakukan aktivitasnya yang sekuensial, digital, linier, teratur dan logis. Namun ia tidak memiliki kemampuan abstraksi, imajinasi, intuisi dan holistik (spiritual). Akibatnya, berpikir dengan otak kiri akan mudah mengalami kejenuhan karena tidak adanya wilayah yang luas di dalam pikirannya. la telah dipola untuk tersenyum sebagaimana yang telah dijadikan pola-pola dalam sekolah kepribadian pada dunia modeling maupun pramugari. Mereka diharuskan untuk bersikap ramah dan tampil menarik. Sementara sikap ini muncul bukan dari inner beauty

yang berasal dari aktivitas otak kanan yang tidak bersifat rasional tetapi relasional, emosional dan spiritual.

Sumber Buku Pelatihan Shalat Khusu’ oleh Abu Sangkan