Khusyu’ bukanlah sesuatu yang rumit tetapi bukan juga sesuatu yang gampang. Sering kita mendengarkan penjelasan metode yang menyatakan tentang pembelajaran kecerdasan emosional spiritual. Padahal yang dilakukan dengan metode tersebut tetap saja merupakan unsur pembelajaran kognitif yang dimodifikasi dan tetap berkonsep matematis (otak kiri). Metode yang lainnya juga sering berbicara tentang masalah shalat khusyu’ tetapi pembicaraannya hanya di sekitar masalah karakteristik. Caranya tidak pernah beranjak ke arah suatu pelatihan atau pemahaman yang mampu menggerakkan atau mengaktifkan bagian otak kanan, sehingga shalat khusyu’ hanya menjadi bagian dari impian saja.

Coba kita bandingkan shalat dengan mengendarai mobil. Pada mulanya, mengendarai mobil itu terasa amat sulit. Saat kita mencoba duduk di belakang kemudi, kita serasa berada di ruangan yang sangat besar dan mata kita hanya mampu melihat lurus ke depan. Logika otak kiri mulai mengarahkan tangan dan kaki dengan perhitungan, bahwa untuk berjalan harus memasukkan gigi satu, dilanjutkan gigi dua, tiga, empat atau lima. Sekaligus kita harus berhati-hati menjaga agar roda mobil tidak terperosok ke lobang atau parit. Otak kiri kita sesuai fungsinya bekerja berdasarkan peraturan membawa mobil yang telah ditetapkan. Namun saat kita hendak memasukkan gigi satu, perintah otak untuk menginjak kopling terasa tidak seimbang sehingga mobil bergerak melompat. Perhitungan otak kiri dalam kondisi seperti ini memerintahkan kaki untuk menginjak rem. Lagi-lagi remnya diinjak dengan logika sehingga mobil berhenti mendadak.

Pengguna otak kiri terlihat tegang saat memegang stir. Tubuhnya tegak dan kaku, matanya menatap ke depan, hampir tidak berani berkedip. Pikirannya mengira jalanan dibuatterlalu sempit sehingga ia berjalan di tengah-tengah, karena khawatir rodanya terporosok ke parit.

Sekarang marilah kita padukan potensi otak kiri dan kanan kita dalam mengendarai mobil. Derhitungan otak kiri kita jadikan sebagai acuan ilmu pengetahuan untuk menjalankan mobil. Injak <opling, masukkan gigi satu lalu lepaskan pedal kopling pelan-pelan, dengan perasaan. Mula-mula zgak kaku dan masih terasa tersendat-sendat. Cobalah terus dirasakan sehinggaterjadi perpaduan antara otak kiri dan otak kanan. Otak kiri akan mengikuti otak kanan yang jauh lebih cerdas, yang mengetahui keadaan di sisi kiri dan kanan mobil kita. Otak kanan mampu menghitung kapan harus ■nasuk menyalip mobil di depannya dan bagaimana mengerem dengan tepattanpa membuat orang terjungkal. Otak kanan kita tidak liar lagi karena telah terpadu dengan otak kiri yang mampu •nengikuti kemana imajinasi pikiran melayang. Dengan sentuhan emosi dan perasaan, membawa mobil menjadi lebih halus dan seimbang. Inilah yang dinamakan dekonsentrasi bukan konsentrasi. Hasilnya adalah sebuah relaksasi yang menjadikan orang mampu untuk bekerja lama dan menikmatinya. Sebaliknya kalau otak kiri dan kanan tidak bersinergi maka yang dihasilkan adalah rasa tidak nyaman dan tegang.

Selama ini kita shalat hanya selalu menggunakan tata aturan otak kiri (hukum-hukum fiqh) yang kenyataannya adalah menghasilkan ketidaknyamanan dan rasajenuh. Perasaan terpisah karena harus memenuhi logika hukum, sementara aktivitas otak kanan dibiarkan liar oleh karena telah berprinsip : “Yang penting sudah memenuhi syarat sahnya shalat”. Padahal Rasulullah telah memperingatkan, bahwa di dalam shalat atau ibadah apa pun kesadaran spiritual (otak kanan) harus diaktifkan, yaitu merasakan kehadiran Allah dihadapan kita (ihsan). Hasilnya tentu akan sangat berbeda kalau dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan hanya memenuhi syarat rukunnya saja. Pengguna otak kanan akan memahami dengan emosinya, bagaimana Allah hadir menyambut dan memberikan jawaban-jawaban atas permohonannya, serta mampu merasakan rahmat dan ketenangan yang mengalir secara langsung ke dalam hatinya. Keadaan ini tidak akan bisa diterima oleh perhitungan logika, karena logika tidak memiliki alat ukur untuk menangkap sisi ini, seperti tidak mampunya otak kiri menangkap naluri berbisnis, naluri memimpin, naluri bertempur, yang semuanya timbul dari aktivitas otak kanan yang bersifat intuitif.

Sumber Buku Pelatihan Shalat Khusu’ oleh Abu Sangkan