Menjelang wafatnya, harta yang dimiliki Muhammad SAW semakin habis. Sepertinya Muhammad SAW berusaha agar ketika beliau wafat tidak ada lagi harta yang dimilikinya dan beliau tidak pula mempunyai utang.

Diceritakan oleh Husain Haikal (2002), di hari-hari sakit yang membawa kepada wafatnya, Muhammad SAW memiliki harta tujuh dinar. Karena khawatir ketika meninggal harta itu masih di tangannya, maka dimintanya supaya uangnya itu disedekahkan.

Tetapi karena kesibukan keluarganya merawat dan mengurus selama sakitnya dan penyakit yang masih terus bertambah, mereka lupa melaksanakan perintahnya itu. Di hari Ahad sebelum hari wafatnya (Senin) beliau sadar kembali dari pingsannya dan bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu lakukan dengan (dinar) itu?” ‘Aisyah menjawab bahwa dinar itu masih ada di tangannya. Kemudian dimintanya supaya dibawakan. Ketika uang itu sudah diletakkan di tangannya, Muhammad SAW berkata, “Bagaimana jawab Muhammad kepada Tuhan, sekiranya ia menghadap-Nya sedang ini masih di tangannya?” Kemudian semua uang dinar itu disedekahkan kepada fakir miskin di kalangan Muslim.

Salah satu bukti bahwa Muhammad SAW wafat dengan tidak memiliki harta adalah sebagai berikut. Setelah Muhammad SAWmeninggal, Fathimah putrinya minta kepada Abu Bakar tanah peninggalan beliau di Fadak dan di Khaibar agar diberikan kepadanya.

Tetapi Abu Bakar menjawab dengan kata-kata ayahnya, “Kami, para nabi tidak mewariskan. Apa yang kami tinggalkan buat sedekah.”

Kemudian Abu Bakar berkata kepada Fathimah, “Kalau ayahmu dulu memang sudah menghibahkan harta ini kepadamu, maka usulmu itu saya terima dan saya laksanakan apa yang dimintanya itu.”

Tetapi Fathimah menjawab bahwa tentang itu ayahnya tidak berkata apa-apa kepadanya. Hanya Ummu Aiman yang mengatakan kepadanya bahwa yang demikian itulah yang dimaksudkan. Dalam hal ini Abu Bakar menekankan supaya Fadak dan Khaibar tetap dikembalikan ke Bayt al-Mal untuk kepentingan masyarakat Muslim.

Dengan demikian, Muhammad SAW meninggal dunia dengan tidak meninggalkan kekayaan duniawi kepada siapapun. Ia pergi melepaskan dunia ini seperti ketika ia datang. Sebagai peninggalan ia mewariskan Al-Qur’an dan sunnahnya akan dijadikan pedoman bagi umat manusia.

Kisah ini juga menunjukkan kepada kita:

1.         Kejujuran Fatimah ia tidak mengada-ngada cerita/pesan orang tua agar harta Fadak / Khaibar jatuh ke tangannya.

2.         Keteguhan prinsip Abu Bakar yang tetap obyektif membela kepentingan umum sekalipun berhadapan dengan “anak presiden”

3.         Indahnya keterbukaan dan egalitarian Islam, di mana satu kasus didudukkan basis hukum dan kekuatan argumennya.

Sumber : buku “ Muhammad SAW adalah The Super Leader dan The Super Manager “