Kini, jalan keluar lain bagi kuatnya kemiskinan dan berbagai persoalan sosial di dunia ialah himbauan tanggung jawab sosial bisnis. LSM, aktivis sosial, dan politisi sudah mendesak korporasi untuk memodifikasi kebijakan mereka dalam soal perburuhan, lingkungan, kualitas produk, dan perdagangan yang adil.

Berkat mereka, banyak pihak bisnis menanggapi. Belum lama ini, banyak eksekutif mengelola korporasi dengan sikap “masa bodoh” terhadap masyarakat. Mereka mengeksploitasi buruh, mengotori lingkungan, memalsukan produk, dan melakukan penipuan—semua demi keuntungan. Di sebagian besar wilayah dunia maju, hal seperti itu sudah lama ditinggalkan. Regulasi pemerintah jadi salah satu sebab diting-galkannya, lainnya ialah gerakan tanggung jawab sosial korporasi (corporate social responsibility, CSR).

Jutaan orang kini sudah lebih tahu ketimbang dulu tentang kebaikan dan keburukan yang dapat dilakukan oleh perusahaan. Surat kabar,majalah, televisi, radio, Internet menginvestigasi dan mempublikasi ber-bagai episode mengenai kebobrokan bisnis. Banyak konsumen bakal meninggalkan perusahaan yang membahayakan masyarakat. Akibatnya, kebanyakan korporasi sangat ingin menciptakan citra positif. Ini secara kuat mendorong ke arah CSR.

CSR terbagi dua. Pertama, “CSR lemah,” yang punya kredo: Jangan bahayakan mannsia atau Bumi (yang tidak mengorbankan keuntungan). Perusahaan dengan praktik CSR lemah diharapkan menghindari menjual produk cacat, membuang limbah pabrik ke sungai atau tempat pembuangan sampah, atau menyuap pejabat pemerintah.

Kedua, “CSR kuat,” yang mengatakan, Jangan membahayakan manusia atau Bumi (selagi masih bisa melakukannya tanpa mengorbankan keuntungan). Perusahaan yang mempraktikkan CSR kuat secara aktif men-cari peluang memberi manfaat sebagaimana mereka lakukan dalam bisnis. Misal, mereka bisa menghasilkan produk dan praktik hijau, memberi peluang pendidikan dan program jaminan kesehatan bagi para pegawai, mendukung upaya untuk menjalankan tranparansi dan ke-adilan terhadap regulasi pemerintah untuk bisnis.

Apa CSR merupakan kekuatan yang mengarah pada perubahan positif di kalangan pemimpin bisnis? Mungkinkah CSR jadi mekanisme yang sudah lama kita cari-cari, paling tidak cara untuk menyelesaikan sebagian masalah masyarakat?

Sayang, jawabannya bukan. Ada beberapa alasan kenapa.

Konsep bisnis yang bertanggung jawab sosial dibangun niat baik. Namun, sebagian pemimpin korporasi menyalahgunakan konsep ini untuk menghasilkan keuntungan sendiri bagi perusahaan mereka. Filosofi mereka kira-kira begini: Hasilkan uang sebanyak mungkin, meski kalian harus mengeksploitasi orang miskin untuk itu—tetapi kemudian sumbangkan sebagian kecil dari keuntungan itu untuk tujuan sosial atau dirikan yayasan untuk melakukan berbagai hal yang akan mempromosikan kepentingan bisnis Anda. Lantas pastikan memberita-kan betapa dermawan Anda!

Untuk perusahaan seperti itu, CSR akan selalu hanya merupakan pajangan. Dalam sejumlah kasus, perusahaan yang menyumbangkan satu sen untuk CSR, ternyata menghabiskan 99 sen untuk proyek penghasil uang yang membuat masalab sosial memburukl Bukan ini rumus untuk memajukan masyarakat!

Ada sedikit perusahaan yang pemimpinnya tulus tertarik perubahan sosial. ]umlah mereka tambah banyak seiring naiknya para manajer dari generasi lebih muda ke posisi puncak. Para eksekutif muda masa kini, karena dibesarkan televisi dan Internet, lebih sadar masalah sosial dan lebih paham persoalan dunia ketimbang generasi sebelumnya.

Mereka punya kepedulian soal perubahan iklim, buruh anak, penyebaran AIDS, hak perempuan, dan kemiskinan dunia. Begitu eksekutif muda ini jadi wakil presiden, presiden, dan CEO perusahaan, mereka membawa kepedulian ini ke rapat dewan direksi. Para pemimpin baru ini sedang mengupayakan membuat CSR menjadi bagian penting filosofi bisnis.

Ini upaya dengan maksud baik. Namun, upaya ini membentur masalah dasar. Para manajer korporasi bertanggung jawab kepada pemilik bisnis yang mereka jalankan—baik itu pemilik pribadi atau pemilik saham yang berinvestasi lewat pasar saham. Di kedua kasus itu, pemilik perusahaan hanya punya satu tujuan: Ingin nilai moneter yang mereka investasikan terus turnhuh.

Maka manajer yang bertanggung jawab kepada mereka harus mengupayakan satu hasil akhir: Meningkatkan nilai perusahaan. Cara tunggal untuk mencapai itu ialah dengan meningkatkan keuntungan perusahaan. Kenyataannya, memaksimalkan keuntungan merupakan kewajiban hukum mereka terhadap pemilik saham, kecuali pemilik saham memandatkan hal lain.

Perusahaan yang mengaku meyakini CSR selalu memandatkan hal itu sebagai syarat, baik terang-terangan atau tersirat. Artinya, mereka berkata: “Kami akan menerapkan tanggung jawab sosial—selama tanggung jawab itu tak menghalangi kami mencetak keuntungan sebesar mungkin.” Beberapa pihak pendukung CSR mengatakan bahwa keuntungan dan tanggung jawab sosial tidak perlu bertentangan. Memang. Kadang-kadang terjadi kebetulan menyenangkan, kebutuhan masyarakat dan peluang meraup keuntungan besar berjalan beriringan.

Karena manajer bisnis bertanggung jawab kepada pemilik perusahaan atau pemilik saham, mereka harus memberi prioritas tertinggi kepada keuntungan. Jika mereka harus menerima untung lebih sedikit demi meningkatkan kesejahteraan sosial, pemilik akan punya alasan merasa dikhianati dan menganggap CSR sebagai pelalaian tanggung jawab keuangan korporasi.

Jadi, meski para pendukung CSR senang bicara mengenai “trio prinsip utama” keuangan, sosial, dan lingkungan sebagai dasar bagi peni-laian bagi korporasi, ujung-ujungnya hanya berlaku satu prinsip utama: keuntungan finansial.

Selama 1990-an dan memasuki abad baru, berbagai perusahaan otomotif Amerika sudah memproduksi mobil jenis SUV super besar haus bahan bakar, pembuatannya menuntut pemakaian banyak sumber daya, menggunakan banyak bahan bakar, dan menimbulkan pencemaran udara luar biasa. Namun mobil jenis itu sangat populer, sangat menguntungkan, dan pembuat mobil terus membuat dan menjual hingga jutaan. Mobil SUV berdampak buruk bagi masyarakat, lingkungan, dan dunia, tetapi tujuan utama perusahaan otomotif besar ialah mencetak keuntungan, maka mereka terus saja bertindak tak bertanggung jawab secara sosial.

Contoh ini menggambarkan masalah paling mendasar mengenai CSR. Karena sifatnya, korporasi tak dilengkapi untuk menghadapi masa­lah sosial. Bukan karena eksekutif bisnis itu mementingkan diri sendiri, rakus, atau jahat. Masalah utamanya ada pada konsep bisnis yang jadi pusat kapitalisme.

Sumber : Buku “Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan “ oleh Muhammad Yunus