Salah satu langkah menarik yang dilakukan Nabi Muhammad SAW di Madinah adalah mengganti nama tersebut menjadi Madinah yang artinya kota. Tindakan ini bukan suatu kebentulan. Di baliknya terkandung makna yang luas dan mendalam dan kontras terhadap kehidupan politik jahiliyah.

Perkataan Arab “Madinah” secara harfiah berarti kota. Pengertian ini tidak jauh berbeda dari asal makna kebahasaan atau etimologisnya yang dapat ditelusuri kepada tiga suku akar katanya yaitu “d-y-n” {dal-ya-nun) dengan makna dasar “patuh”, sebagaimana dinyatakan dalam tashrif “dana-yadinu “. Dari kata ini pula kata “din” yang berarti agama berasal. Suatu kata yang yang mengacu kepada ide tentang kepatuhan atau sikap patuh. Sebab sistem atau rangkaian ajaran yang disebut “agama” itu memang berintikan tuntutan untuk tunduk dan patuh kepada sesuatu yang dipandang mutlak dan diyakini sebagai asal dan tujuan hidup.

Penggunaan kata “Madinah” oleh Nabi Muhammad SAW untuk menukar nama kota hijrah beliau itu mengisyaratkan suatu deklarasi atau proklamasi bahwa di tempat baru itu hendak diwujudkan suatu masyarakat teratur (atau berperaturan) sebagaimana mestinya  suatu masyarakat.  Dengan  demikian konsep  Madinah

adalah pola kehidupan sosial yang sopan yang ditegakkan atas dasar kewajiban dan kesadaran umum untuk patuh kepada peraturan atau hukum.

Karena itu perkataan Arab untuk peradaban adalah madaniyah yang memiliki dasar pengertian yang sama dengan beberapa istilah yang berasal dari akar-akar mmpunbahasalndo-Eropa seperticz civic, polis dan politiae (juga”polisi”). Dalam konteks Jazirah Arabia, konsep peradaban itu terkait erat dengan pola kehidupan menetap {tsaqafah) di suatu tempat sehingga suatu pola hidup bermasyarakat tampak hadir {hadharah) di tempat itu.

Dengan demikian masih dalam istilah Arab, tsaqafah berarti “kebudayaan”, dan hadharah berarti “peradaban” sama dengan madaniyah. Lawan tsaqafah adalah badawah yang mempunyai makna “hidup berpindah pindah” {nomadism) dan makna kebahasaan “(tingkat) permulaan” {bidayah atau primitif). Karena itu, “orang kota” disebut ahl al-hadhar atau hadhari dan “orang kampung” disebut ahl al-baddwah atau badawi atau badwi (Badui). Kaum “Badui” juga sering disebut al-A’rab yang secara semantis berbeda makna dari perkataan al-Arab (orang Arab) sekalipun dari akar kata yang sama.

Dalam Al-Qur’an mereka yang disebut al-A’rab itu digambarkan sebagai golongan masyarakat yang kasar dan sulit memahami dan mematuhi aturan.  Mereka juga digambarkan sebagai golongan yang ketaatannya kepada Nabi Muhammad SAW hanya sampai batas kepatuhan lahiriyah tanpa kedalaman iman. Dalam Al-Qur’an terbaca firman yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengingatkan bahwa mereka itu baru “berislam” (secara harfiah) karena iman belum masuk ke dalam hati

mereka.

Sumber : Muhammad SAW , The Super Manager, The Super Leader oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio