Paulus, dokterahli bedah alumnus Universita Degli Studi Padova, Italia, sudah 20 tahunan meresepkan herbal kepada para pasien. la menyimpulkan peran herbal terhadap kesembuhan pasien hanya 40%.

Selebihnya adalah pikiran,jiwa,gaya hidup,semangat hidup, dan tubuh pasien. Menurut Paulus emosi mempengaruhi pikiran. “Berpikir positif, menyebabkan daya tahan tubuh meningkat. Jika pikiran kacau akibat stres menyebabkan daya tahan tubuh turun sehingga gampang sakit,” kata dokter yang bertugas di Uganda dan Ethiopia selama 8 tahun itu.

Ketika kita stres, sangat mengganggu metabolisme tubuh karena mempengaruhi penyerapan zat-zat gizi. Padahal, “Penyerapan zat gizi menjadi salah satu kunci penyembuhan,” kata ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Clara M Kusharto.

Clara mengatakan ketika stres, pusat rasa di hipotalamus ikut terganggu. Akibatnya orang yang stres menjauhi makanan atau justru makan terus-menerus. Menurut Clara orang yang stres sulit mengontrol asupan gizi. Sedangkan menurut periset gizi di Pusat Penelitian Gizi dan Kesehatan, Dr Mien Karmini, stres menyebabkan oksidasi zat-zat dalam tubuh menjadi tak lancar, Stres juga memicu radikal bebas yang pada akhirnya menyebabkan penyakit degeneratif.

Sebaliknya ketika kita berpikir positif tanpa stres, maka metabolisme tubuh berfungsi lebih baik. Saat emosi tak stabil dan temperamental, secara tak sadar justru memacu hormon adrenalin dalam tubuh. Akibatnya menurunkan sistem imunitas tubuh sehingga penyakit lebih mudah berkembang. Adrenalin seperti doping untuk meningkatkan performa, tetapi sesudah itu capai.

Sebab, adrenalin memacu jantung sehingga bekerja lebih keras. Produksi adrenalin meningkat ketika tubuh stres. Karena adrenalin seperti doping, maka orang marah, mampu menendang pintu kuat-kuat atau mengangkat beban berat, Peran lever menetralisir limbah hasil metabolisme.

“Orang yang marah, lever harus  bekerja keras untuk memproduksi empedu,” kata Paulus. Bila produksi empedu terganggu, maka kita mulai mual karena asam lambung meningkat. Oleh sebab itu perut sohor sebagai otak kedua karena bekerja secara sinkron dengan otak pertama (otak yang sebenarnya). “Apa yang dialami otak pertama, diproyeksikan ke otak kedua. Kalau kita pusing, akibatnya perut tak enak atau sebaliknya,” kata Paulus.

Sumber : Majalah Trubus no. : 497