Seorang pasien, sebut saja Cantika, belasan tahun mengidap asam urat. Setiap kali berobat, dokter meresepkan obat yang mengandung senyawa piroxicam. Asam urat memang mereda setelah Cantika mengonsumsi obat itu.

Namun, ketika obat habis, penyakit autoimun itu kembali kambuh. Kejadian itu berulang-ulang hingga akhirnya Cantika bertemu dr Paulus. Dokter menggali informasi dari pasien dan mengetahui pemicu asam urat Cantika adalah kebencian terhadap ibu kandung selama bertahun-tahun.

“Akibatnya ia tak tenang, yang dipikirkan kebencian kepada ibu, akibatnya stres, sehingga menimbulkan gangguan pada sistem kekebalan tubuh,” kata Paulus. Selain meresepkan herbal, Paulus menyarankan agar Cantika mendatangi sang bunda di Yogyakarta dan minta maaf dengan tulus.

Tiga bulan berselang, Cantika mengabarkan asam urat sembuh. Menurut Paulus pikiran Cantika menjadi tenang setelah minta maaf sehingga kekebalan tubuh meningkat.

Jiwa juga mempengaruhi proses kesembuhan seseorang. Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Anggadewi Moesono, mengatakan manusia terdiri atas fisik, mental, dan spiritual yang saling berkaitan. Gangguan pada salah satu bagian, akan mempengaruhi bagian lain,

Oleh karena itu, perlu membangun harapan kepada setiap pasien untuk mempercepat proses kesembuhan. Menurut Anggadewi orang yang gampang putus asa, tak mempunyai spirit, keberhasilan menghadapi penyakit tak sebaik orang yang punya tujuan hidup yang benar.

Dari sisi fisik, Paulus mengatakan bahwa tubuh seperti kota besar yang terdiri atas jalur listrik, saluran telepon, dan lampu lalu lintas. Jika lampu lalu lintas mati, biasanya timbul kemacetan sehingga daerah lain juga merasakan dampaknya. Contoh, ketika kita sakit mag maka kepala juga pusing. Ketika bertugas di Afrika, Paulus berkali-kali menemukan pasien kusta yang jarinya hilang. Waktu tidur, tikus menggigit jari-jari, tetapi pasien diam saja karena tak terasa apa-apa.

Relasi dengan Tuhan mempengaruhi proses kesembuhan. “Dokter hanya mengobati, Tuhan menyembuhkan. Jadi tak satu pun manusia mampu menyembuhkan pasien,” kata Paulus.

Menurut Paulus doa mengandung suatu energi positif sehingga menghasilkan efek yang positif ke tubuh dan jiwa pasien. Oleh karena itu hubungan yang dekat dengan Tuhan, mengurangi tingkat stres dan meningkatkan daya tahan tubuh. Ketika seseorang berjuang untuk bertahan hidup, mengumpulkan energi pada tubuh dengan cara apa pun sehingga tekad yang ditimbulkan lebih tinggi.

Jadi, kesembuhan sangat tergantung pada pikiran, jiwa, gaya hidup, semangat hidup, dan

kondisi tubuh si pasien. Seorang pengobat atau dokter hanya mengendalikan tubuh pasien dengan memberikan ramuan. Adapun 5 faktor lain, di tangan pasien di luar kendali pengobat. Oleh karena itu keberhasilan pengobatan lebih banyak ditentukan oleh si pasien. Bukan oleh dokter. (Sardi Duryatmo)

Sumber : Majalah Trubus no. 497