Pahamilah benar-benar bahwa takut, harap, dan cinta kepada Allah adalah bagian dari iman.

Dan pernyataan barusan disepakati oleh seluruh ulama — tanpa terkecuali.

•           Jika seseorang merasa takut kepada Allah dan balasan Allah — mungkin itu berupa kesulitan di dunia maupun di akhirat — maka ia akan beribadah. Tanpa takut, ia tidak akan beribadah.

•           Jika seseorang merasa harap kepada Allah dan balasan Allah — mungkin itu berupa kemudahan di dunia maupun di akhirat— maka ia akan meningkatkan ibadah. Tanpa harap, ia tidak akan meningkatkan ibadah.

•           Jika seseorang merasa cinta kepada Allah, maka ia akan melaku-kan ibadah yang terbaik. Tanpa cinta, ia tidak akan melakukan ibadah yang terbaik.

•           Dengan kata lain, semakin besar harapan seseorang kepada Allah dan balasan Allah, maka akan semakin baik pula ibadahnya. Demikian pula sebaliknya.

•           Namun, masih ada juga yang meremehkan, “Ah, itu soal tahapan saja. Kalau pemula, memang mainnya di tahapan takut dan harap.” Maaf, kami terpaksa menggeleng-gelengkan kepala. Karena  Nabi pun memiliki harap dan takut kepada Allah. Lha, mana mungkin Nabi itu pemula!

Menurut pengamatan kami, orang-orang yang kurang menaruh harap kepada Allah, akhirnya cenderung menaruh harap berlebihan kepada dirinya sendiri atau orang lain. Jadilah manusia menuhankan manusia!

Mungkin, seseorang menganggap otaknya sebagai tuhan kecil. Bawahan menganggap atasannya sebagai tuhan kecil.

Pengusaha menganggap investornya sebagai tuhan kecil. Terus, penjual menganggap pembelinya sebagai tuhan kecil. Mahasiswa menganggap dosennya sebagai tuhan kecil. Pasien menganggap dokternya sebagai tuhan kecil. Istri menganggap suaminya sebagai tuhan kecil. Anak menganggap orangtuanya sebagai tuhan kecil. Orang miskin menganggap orang kaya sebagai tuhan kecil. Padahal ini semua jelas-jelas keliru!

Ada pula yang berharap pada mesin, alam, atau kejadian-kejadian. Contoh kecil saja saja, pramugari. Maklum, hampir tiap minggu kami naik-turun pesawat. Ketika memberi pengarahan, pernahkah pramugari mengajak penumpang berdoa dan berharap kepada Allah? Mereka pikir canggihnya pesawat, mahirnya pilot, cerahnya cuaca, dan rencana darurat sudah cukup menjamin keselamatan penumpang. Ini kan jelas-jelas keliru! Saran kami bagi maskapai, tetaplah memberi pengarahan seperti biasa, namun awali dengan ajakan berdoa dan berharap kepada Allah.

Sumber : Buku “ Percepatan Rezeki “ oleh Ippho “ Right “ Santosa