Anak – anak kini hidup dalam era teknologi informasi. Mereka mungkin tak suka lagi bermain patok lele pet-pet (petak umpet), atau bahkan layang-layang.

Mereka kini bias menyetel saluran televisi yang diinginkan, bermain game online, berselancar di  Internet melalui HP atau laptop. Pendek kata, sebuah ruangan kecil saja  sudah cukup menghibur dan mengembangkan imajinasi  anak. Itulah kemajuan teknologi yang tak bisa dihindari.

Lebih dari itu, Internet sudah masuk pada semua lini kehidupan, mulai dari hiburan hingga agama. Nyaris tak ada ruang yang disisakannya. Bahkan balai-balai pengajian sudah dimasuki Quran digital. Sebagian bacaan ayat-ayat Quran kini bisa diunduh gratis di beberapa situs.

Teknologi memang membawa banyak manfaat, menyebarkan banyak ilmu, namun juga sekaligus menyuplai banyak sampah dan  racun.

Salah satu racunnya adalah konten-konten yang berbau pornografi. Sangat disayangkan lagi, korbannya adalah anak-anak, calon-calon pemimpin masa depan. Anak-anak begitu mudah meniru apa yang dilihat. Semakin sering mereka mengakses pornografi melalui Internet, semakin besar peluang mereka melakukan tindakan yang tak pantas. Otak dan pikiran mereka akan terinfeksi virus pornografi.

Beberapa kasus upaya perkosaan oleh anak dilaporkan terjadi setelah video artis ternama beredar, apalagi jika sang artis merupakan publik figur idola anak-anak. Sungguh, bahaya pornografi luar biasa.

Di Aceh, seorang guru di sebuah SMP di Banda Aceh kaget bukan main ketika memergoki siswanya saling tukar file porno melalui memory card handphone. Di sekolah yang lain, pelajar SMP ketangkap basah sedang ramai-ramai menonton film tersebut, juga melalui sebuah handphone, baru-baru ini.

Hasil riset menunjukkan, bahaya pornografi melebihi bahaya narkoba. Ketagihan narkoba merusak tiga bagian otak, namun kecanduan pornografi merusak lima bagian otak, yakni bagian lobus Frontal, gyrus Insula, Nucleus Accumbens Putamen, Cingulated, dan Cerebellum.

Begitulah pendapat Dr Donald Hilton Jr, dokter ahli bedah saraf dari Amerika Serikat. Otak, kata dia, merespons informasi yang diterima melalui mata lebih cepat ketimbang dari sumber lain, mungkin sekitar seper sekian detik. Sedangkan kokain dan heroin direspons oleh otak dalam waktu yang jauh lebih lambat. Begitupun, kita tak bisa menolak kehadiran teknologi. Yang bisa dilakukan orangtua, guru di sekolah, atau masyarakat luas, adalah mengawasi sang anak. Kalaulah ada orang tua yang memfasilitasi anaknya dengan HP canggih, berlangganan Internet unlimited, namun enggan mengawasi apa yang mereka lakukan, itu adalah pertanda orang tua lah yang sebenarnya telah menjerumuskan sang anak.

Ketika masyarakat di negara liberal sekalipun resah dengan dampak negatif Internet terhadap anak-anak, menjadi tanda tanya besar ketika masyarakat daerah kita yang berjulukan Serambi Mekkah ini justru adem-adem ayem saja menghadapi fenomena global itu.

Oleh : Said Kamaruzzaman

Sumber : Harian Serambi Indonesia ( 17 April 2011 )